Anda telah memilih tautan yang mengantar Anda ke situs yang dikelola pihak ketiga yang bertanggung jawab sendiri untuk konten di dalamnya.
AstraZeneca menyediakan tautan ini sebagai suatu layanan bagi pengunjung situs web. AstraZeneca tidak bertanggung jawab atas kebijakan privasi dari situs web pihak ketiga mana pun. Kami anjurkan Anda membaca kebijakan privasi tiap situs web yang Anda kunjungi.
Klik ‘Batal’ untuk Kembali ke situs AstraZeneca atau klik ‘Lanjut’untuk melanjutkan
Para ahli telah mengembangkan kuesioner yang terdiri dari 5 pernyataan untuk menilai ketergantungan seseorang terhadap inhaler SABA. Klik di bawah ini untuk melihat Tes Ketergantungan Pelega.
BUKTI MENUNJUKKAN ADANYA BEBAN KESEHATAN GLOBAL TERHADAP KETERGANTUNGAN SABA
Ketergantungan terhadap inhaler SABA (yang biasanya berwarna biru) umum terjadi di antara para pasien asma.4 Banyak pasien merasa ‘terikat’ dengan inhaler SABA mereka, karena percaya SABA adalah cara terbaik untuk mengontrol gejala asma mereka.5
Penelitian telah menunjukkan bahwa 90% pasien asma ingin gejalanya cepat reda.6 Kebanyakan pasien tidak paham bahwa inhaler SABA yang mereka gunakan untuk meredakan gejala justru tidak mengobati penyebab asma mereka.7,8
Meskipun inhaler SABA meredakan gejala dengan cepat, ketergantungan (mis. pasien menggunakan inhaler SABA mereka 3 kali atau lebih selama satu minggu) merupakan tanda bahwa asmanya tidak terkontrol dengan baik, yang mana justru dapat menyebabkan peningkatan risiko eksaserbasi.1–4 Jika pasien diberikan 3 atau lebih tabung SABA dalam setahun, hal itu juga menandakan bahwa asmanya tidak terkontrol dengan baik, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan asma, dan dalam beberapa kasus, kematian dini.1,2,8
Saat ini, penelitian observasional sedang berlangsung di seluruh dunia untuk mengevaluasi beban ketergantungan SABA pada asma dan pengaruh negatif pada hasil klinis terkait asma.
Mengingat pandemi global Covid-19 dan di saat sistem kesehatan cukup kewalahan, membantu pasien mengendalikan asma secara efektif dan mengurangi risiko eksaserbasi agar mereka tidak perlu sering berobat ke rumah sakit saat ini menjadi lebih penting dari sebelumnya.9 Selain itu, para ahli medis sepakat bahwa untuk pasien asma, cara terbaik untuk tetap sehat dan pulih jika terinfeksi Covid-19, adalah memastikan asma mereka sestabil mungkin.9
Menerapkan pendekatan klinis baru dan mengubah perilaku untuk mengatasi ketergantungan SABA dapat menjadi sebuah tantangan. Bukti menunjukkan bahwa diskusi antara tenaga kesehatan dan pasien demi mendukung perubahan dalam pengendalian asma secara mandiri dapat menjadi lebih efektif jika mereka memperhitungkan harapan dan kekhawatiran pasien.10
Diadaptasi dari Kuesioner Risiko SABA tervalidasi,5 Tes Ketergantungan Pelega merupakan suatu alat digital yang ramah pasien yang dirancang untuk mengidentifikasi apakah seorang pasien mungkin terlalu bergantung terhadap inhaler SABA.

Reliever Reliance Test 2.0 merupakan Tes Ketergantungan Pelega yang diadaptasi dari Kuesioner Keyakinan terhadap Obat-obatan11 yang sudah divalidasi dan digunakan secara global. Dikembangkan oleh ahli kedokteran perilaku terkemuka, Profesor Rob Horne, University College London (UCL), dengan kolega dari International Primary Care Respiratory Group (IPCRG), dan didanai penuh oleh AstraZeneca UK Limited. Inisiatif Asthma Right Care adalah gerakan global yang dipimpin oleh IPCRG dan didanai oleh AstraZeneca global
This is not medical advice DO NOT stop or change your asthma medication without consulting your healthcare professional. It is important to continue to take your Blue Reliever Inhaler as directed by your healthcare professional, including during any worsening of your asthma or prior to exercise.
IPCRG VERSION 2.0
REFERENSI
1. Global Initiative for Asthma. (GINA). Tersedia di: https://ginasthma.org/wp-content/uploads/2020/04/Main-pocket-guide_2020_04_03-final-wms.pdf (Terakhir diakses: Oktober 2020)
2. Price D, et al. NPJ Prim Care Respir Med. 2014:12;24:14009
3. Azzi EA, et al. BMJ Open. 2019:14;9(8):e028995.
4. Cole S, et al. BMJ Open. 2013;3(2):e002247
5. Chan AHY, et al. J Allergy Clin Immunol. 2020:20;S2213–2198(20)30722–4
6. Partridge, MR et al. BMC Pulm Med. 2006;6:13
7. Humbert M, et al. Allergy. 2008;63(12):1567–80
8. Nwaru BI, et al. Eur Respir J. 2020 Apr 16;55(4):1901872
9. CEBM. Asthma and COVID-19: risks and management considerations. Tersedia di: https://www.cebm.net/covid-19/asthma-and-covid-19-risks-and-management-considerations/ (Terakhir diakses: Oktober 2020)
10. Pinnock H, et al. Breathe (Sheff). 2015 Jun;11(2):98–109
11. Horne R, et al. Psychology & Health. 1999;14(1):1–24
Situs ini ditujukan untuk tenaga kesehatan